BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM

YOGYAKARTA

GALERI FOTO

LINK TERKAIT
SM Sermo

I. KONDISI KAWASAN

Kawasan hutan Sermo merupakan hutan negara dengan fungsi sebagai hutan produksi, yang pengelolaannya dilakukan oleh Pemerintah Daerah Propinsi D.I. Yogyakarta pelaksananya Dinas Kehutanan Propinsi D.I. Yogyakarta. Kemudian fungsi kawasan hutan hutan dirubah menjadi fungsi lindung (hutan lindung) Kawasan hutan Sermo merupakan hutan tanaman, dimana jenis-jenis vegetasinya ditanam mulai pada  tahun empat puluhan hingga tahun sembilan puluhan.
Sejak hutan Sermo mempunyai fungsi produksi dan lindung, upaya pengelolaan dan pengamanan terus dilakukan oleh Pemerintah Daerah, utamanya telah dibentuk institusi terendah yaitu Resort Polisi Hutan Sermo, dengan dibangun sarana kerja berupa kantor walaupun sekarang kondisi kantor agak rusak. Permasalahan terhadap kawasan hutan Sermo yang sampai saat ini masih berlangsung adalah adanya penyerobotan lahan pada petak-petak tertentu untuk dijadikan areal tumpangsari, perburuan satwa masih terjadi mengingat asesibilitas dalam kawasan hutan Sermo cukup mudah dilalui oleh masyarakat umum. Dalam kawasan dilalui jalan beraspal yang dapat dilewati kendaraan umum. Kondisi ini lambat laun akan mengancam keamanan kawasan jika  tidak dilakukan pengamanan secara intensif. Pada umumnya  perburuan satwa yang masih sering terjadi dilakukan oleh masyarakat dari luar desa-desa yang berdekatan dengan kawasan hutan Sermo.
Kondisi masyarakat sekitar hutan Sermo pada umumnya cukup sadar akan pentingnya melestarikan hutan, bagi masyarakat yang sudah terlanjur memanfaatkan areal untuk tujuan pertanian pada kawasan hutan, tidak akan menambah/membuka areal hutan lagi bahkan sudah menanam tanaman hutan pada areal garapannya, jika mereka bersedia meninggalkan lahan garapannya sewaktu-waktu pemerintah menghendakinya. Untuk mengembalikan kondisi beberapa petak yang telah dibuat areal tumpangsari, telah dicanangkan Gerakan Nasional Rehabililitasi Hutan dan Lahan khusus unrtuk kawasan SM. Sermo pada petak 20 dan 23. Penanaman GNRHL dimulai tahun 2003, dengan jenis tanaman Jati dan Jambu Biji. Pelaksana GNRHL yaitu Dinas Pertanian dan Kelautan  Kabupaten Kulon Progo. Kondisi hutan pada umumnya  cukup baik, mengingat Kawasan Hutan Sermo merupakan daerah penyangga sumber air terutama Waduk Sermo.

II. SK. PENUNJUKAN/PENETAPAN
Suaka Marga Sermo Kabupaten Kulon Progo ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 171/Kpts-II/2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor : 188.4/3710 tentang Perincian dan Status dan fungsi hutan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini merupakan alih fungsi dari kawasan hutan produksi pada petak 20,21,22,23 dan sebagian petak 24 dengan luas total 181,0 ha masuk dalam RPH. Sermo BDH Kulon Progo, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, secara administratif pemerintahan kawasan ini berada diantara 3 desa yaitu Desa Hargowilis dan Desa Hargorejo yang masuk dalam wilayah Kecamatan Kokap dan Desa Karangsari yang masuk dalam wilayah Kecamatan Pengasih. Topografi kawasan ini berbukit-bukit dengan kelerengan di atas 25 % dengan ketinggian tempat 70 m sampai dengan 100 m di atas permukaan laut.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 Tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam pada pasal 12 menyebutkan setiap Kawasan Cagar Alam atau Kawasan Suaka Marga Satwa dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan, dan pada pasal 13 ayat (1) menyebutkan Atas dasar kepentingan keutuhan ekosistem, pengelolaan satu atau lebih kawasan cagar alam dan atau kawasan suaka marga satwa dapat ditetapkan sebagai satu pengelolaan, dengan satu rencana pengelolaan . dan ayat (2) menyebutkan Dalam hal pengelolaan satu atau lebih Kawasan Cagar Alam dan atau Kawasan Suaka Marga Satwa ditetapkan sebagai satu kawasan pengelolaan, maka rencana pengelolaan merupakan bagian tak terpisahkan. Rencana pengelolaan disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana Pengelolaan Kawasan Suaka Marga Satwa sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan dan garis-garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan.
Rencana Pengelolaan kawasan Suaka alam maupun Kawasan Pelestarian Alam meliputi jangka panjang untuk rencana 20 (dua puluh ) tahun, jangka menengah 5 (lima) tahun dan jangka pendek 1 (satu) tahun. Untuk penyusunan rencana pengelolaan Kawasan Suaka Marga Satwa Sermo ini  adalah untuk jangka panjang, 20 tahun.

III. POTENSI SPESIFIK KAWASAN

A. Ekosistem Hutan Sermo
Ekosistem kawasan hutan Sermo merupakan ekosistem pegunungan rendah dimana khusus kawasan Suaka Marga Satwa Sermo merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian bervariasi antara 70 meter dpl sampai dengan 100 meter diatas permukaan laut. Ekosistem SM. Sermo merupakan bagian dari Ekosistem Pegununungan Kulon Progo yang berbatasan dengan jaluir pegunungan menoreh. Keanekaragaman hayati berupa flora agak homogen mengingat kawasan hutan ini merupakan hutan tanaman, sedangkan keanekaragaman satwa pada SM. Sermo termasuk dalam kawasan Plat Sunda.

B.  Flora
   
    Kondisi vegetasi/flora pada masing-masing petak menunjukkan bahwa masing-masing petak hampir sama jenisnya, heterogenitasnya kecil hal ini disebabkan kawasan hutan Sermo dan khusunya SM. Sermo merupakan hutan tanaman yang ditanam oleh Dinas Kehutanan Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta. Penanaman dimulai pada tahun 1942 sampai dengan tahun 1999.
    Pengamatan flora dilakukan dengan menggunakan metoke kwadran dimana pada setiap petak dibuat plot pengamatan yang diletakkan secara acak atau random, untuk ukuran plot tingkat pohon dengan ukuran 20 x 20 meter luas 400 m2, tingkat tumbuhan bawah dengan ukuran plot 4 x 1 meter luas 4 m2 dan sebagai ulangan dibuat dalam satu plot besar dibuat dua plot kecil untuk tumbuhan bawah, pengamatan plot dilakukan identifikasi jenis,penghitungan jumlah jenis,pengukuran diameter serta penaksiran tinggi pohon. Jumlah plot yang dibuat keseluruhan 26 plot,untuk pengamatan pohon dalam plot dihitung pada masing-masing kwadran. Jumlah pohon pada seluruh plot pengamatan berjumlah 2.593 pohon/ha. Terdiri dari bermacam jenis. Untuk tumbuhan bawah diperoleh 29 jenis tumbuhan bawah selengkapnya disajikan pada tabel berikut :
       
    Tabel 1.   Tumbuhan bawah Suaka Margasatwa Sermo
No     
Jenis Nama Lokal     
Nama Ilmiah 
Jumlah Individu 
Wedusan
Ageratum Cony Zoides
 
Alpinia Sp 
Sambiloto 
Andrographis Panculata 
97 
 
Anthurium Sp 
 
Boreria laevis 
0.5 
Rumput Teki 
Cyperus Rotundus 
285,5 
Tapak Liman 
Elephantopus scaber 
12,5 
Kirinyu 
Eupatorium odoratum 
248,5 
Irengan 
Triumfetta Indica 
10 
 
Fimbrystylis Sp 
41 
11 
Alang-alang 
Imperata Cylindrica 
12,5 
12 
Kangkungan 
Ipomoea Sp
36 
13 
Telekan 
Lantana Camara 
330,5 
14 
 
Leucas Lavandulifolia 
2,5 
15 
 
Sida Veronicifolia 
40,5 
16 
 
Mimosa InVisa 
17 
Puteri Malu 
Mimosa Pudica 
42,5 
18 
 
Panicum Barbatum 
313,5 
19 
 
Panicum Malabaricum     
240 
20 
 
Papilionaceae 
207,5 
21 
 
Peperomea Pellucida 
1,5 
22 
 
Phasealus Sp 
10 
23 
 
Solanaceae 
5,5 
24 
Jarong 
Stachytarpeta Indica 
154,5
25 
 
Synedrella nodiflora 
16,5 
26 
 
Widelia Biflora
27 
Daun Hijau Biru 
Achyrantes Aspera 
17 
28 
Krokot 
Hedyotis pterita 
29 
Trengis 
Salvia Occidentalis 
12 
 
TOTAL 
 
2141,5 
  Sumber data : Hasil Pengamatan Langsung 2005
 
Tabel.  2.  Data penutupan vegetasi/flora di Kawasan SM. Sermo 
No 
Petak 
Jenis Tanaman 
Luas lahan (Ha) 
Tahun Tanam 
Kerapatan (phn/ha) 
Pertumbuhan 
20 
Kayu Ptuih, Jati 
0.80 
1944 
0.6 
Cukup 
 
 
Akasia, kayu putih 
2.70 
1977 
0.4 
Jelek 
 
 
Jati, eukaliptus, Sonokeling, Mahoni
5.20 
1942 
0.5 
Cukup 
 
 
Kayu Putih, Akasia, Kenanga, MPTS 
4.90 
76/99 
0.6 
Cukup 
 
 
Kenanga, MPTS 
3.00 
1999 
0.5 
Cukup 
 
 
Kayuputih, Kenanga, Eukaliptus, MPTS 
18.40 
1999 
0.5 
Cukup 
 
 
Kenanga, MPTS 
8.00 
2001 
0.5 
Cukup 
21 
Akasia, Kayu putih, Eukaliptus 
6.20 
1974 
0.6 
Cukup 
 
 
Mahoni 
8.90 
1942 
0.5 
Cukup 
 
 
Akasia, Kayu Putih 
2.70 
1977 
0.5 
Cukup 
22 
Pinus, G melina, Akasia 
6.00 
1995 
0.3 
Jelek 
 
 
Putih, Jati 
4.40 
1987 
0.3 
Jelek 
 
 
Jati, Akasia, Sonokeling 
4.30 
59/60 
0.4 
Cukup 
23 
Jati, Akasia, Mahoni 
4.70 
1944 
0.6 
Cukup 
 
 
Kayu Putih, Pinus, Kenanga, MPTS
18.90
89/99
0.5 
Cukup 
 
 
Pinus, MPTS 
4.70 
1985 
0.6 
Cukup 
 
 
Kayu Putih, Akasia 
3.20 
1976 
0.6 
Cukup 
24 
Kayu Putih, Akasia, Eukaliptus 
7.80 
1971 
0.6 
Cukup 
 
 
Kayu Putih, Akasia, Jati, Pinus 
14.20 
1960 
0.4 
Jelek 
 
 
Pinus, MPTS 
5.00 
1988 
0.6 
Cukup 
 
 
Kayu Putih, Akasia, MPTS, Kenanga 
19.40 
88/01 
0.5 
Jelek 
 
 
Jati 
0.60 
1944 
0.4 
Cukup 
 
 
Kayu Putih, Akasia 
6.30 
1959 
0.6 
Cukup 
 Sumber : Data Sekunder Buku Kajian Kawasan SM, Sermo Kulonprogo, Balai KSDA Yogyakarta 2004
 
C. Fauna

    Hasil pendataan  satwa terutama jenis aves dilakukan dengan menggunakan metode pendugaan Mac Kinnon dimana metode ini dilakukan pengamatan dengan penjelajahan secara berulang-ulang pada seluruh kawasan SM. Sermo. Metode Mac Kinnon ini disamping menghasilkan pendugaan populasi yang mendekati kebenaran   dan jumlah jenis pada seluruh kawasan. Adapun hasil pendataan aves pada SM. sermo diperoleh 38 jenis disajikan pada tabel berikut :

Tabel. 4.     Hasil pendataan aves dengan menggunakan metode Mac Kinnon disajikan pada tabel berikut : 
No 
Famili 
 
Nama Daerah/Lokal 
Nama Ilmiah 
 
Aves 
1.     
Walet Sapi 
Collocalia esculenta 
 
 
2. 
Ayam Hutan Hijau 
Gallus varius 
 
 
 3.
Pelanduk Semak 
Malacocicla sepiarium 
 
 
 4.
Tekukur 
Streptopelia chinensis 
 
 
 5.
Cucak Kutilang 
Pycnonotus aurigaster 
 
 
 6.
Cekakak Jawa 
Halcyon cyanoventris 
 
 
 7.
Burung Madu Sriganti 
Nectarinia jugularis 
 
 
 8.
Cinenen Pisang 
Orthotomus sutorius 
 
 
 
Cipoh Kacat 
Aegithina tiphia
 
 
 
Cinenen Kelabu 
Orthotomus sepium
 
 
 9.
Burung Madu kelapa 
Anthreptes malaccensis
 
 
 10.
Delimukan Zamrud 
Chalcophaps indica
 
 
 11.
Punai Gading 
Treron vemans
 
 
 12.
Kehicap Ranting 
Hypothymis azurea
 
 
 13.
Sepah Kecil 
Pericrocotuscinnamomenus
 
 
 14.
Kedalan Birah 
Phaenicophaeus curvirostris
 
 
 15.
Elang Ular Bido 
Spilornis cheela
 
 
 16.
Kucica Kampung 
Copshycus saularis
 
 
 17.
Bondol Jawa 
Lonchura leucogastroides
 
 
 18.
Kepodang Kuduk Hitam 
Oriolus chinensis
 
 
 19.
Tepekong Jambul 
Hemiprocne longipennis
 
 
 20.
Cucak Kuning 
Pycnonotus melanicterus
 
 
 
Bubut Besar 
Centropus sinensis
 
 
 
Pijantung Kecil 
Arachnothera longirostra
 
 
 
Cabai Jawa 
Dicaeum trochileum
 
 
 
Prencak Coklat 
Prinia polychroa
 
 
 
Cekak Sungai 
Todirhampus chloris
 
 
 
Gagak Kampong 
Corvus macrorhynchos
 
 
 
Gemak Tegalan 
Turnix sylvatica
 
 
 
Bubut Jawa 
Centropus nigrirufus
 
 
 
Punai Penganten 
Treron griseicauda
 
 
 
Wiwik Kelabu 
Cacomantis merulinus
 
 
 
Merbah Corok-corok 
Pycnonotus simplex
 
 
 
Gelatik Batu Kelabu 
Parus major
 
 
 
Bentet Kelabu 
Lanius schach
 
 
 
Gemak Loreng 
Turnix suscitator
 
 
 
Elang Hitam 
Ictinaetus malayensis
 
 
 
Sikep Madu Asia 
Pernis ptilorhnchusy
Sumber : Pengamatan Langsung 2005 
 
Tabel 5. Daftar  Satwa Mamalia dan Reptilia di SM. Sermo
No. 
Famili 
 
Nama Daerah / Lokal 
Nama Ilmiah 
I
Mamalia 
1. 
Babi Hutan 
Sus scrofa 
 
 
 
Garangan 
Herpetes javanicus 
 
 
 
Musang 
Paradoxurus sp 
 
 
 
Tupai 
Tupaia javanica 
 
 
 
Tikus Sawah 
Ratus sp 
 
 
 
Kijang 
Muntiacus muntjak 
II
Reptilia 
 
Ular Sowo 
Phyton sp 
 
 
 
Ular Air 
Pytas curus 
 
 
 
Ular Dahan 
Dryphis prasinus 
Sumber Data : Data Sekunder Buku Kajian Suaka Margasatwa Sermo BKSDA Yogyakarta 2004 

IV. PENGELOLAAN DAN KEBIJAKSANAAN

Kawasan  Hutan Sermo khusus petak 20,21,22,23 dan sebagian Petak 24 dengan luas 181,0 ha dengan fungsi sebagai Suaka Margasatwa Sermo merupakan hutan tanaman , jenis tanaman monokultur jenis jati, mahoni, akasia, ekaliptus dan kayu putih yang tersebar pada petak-petak kawasan hutan Sermo. Sesuai dengan fungsi maka pengelolaan berada pada Balai KSDA  D.I. Yogyakarta, Sejak ditunjuknya kawasan ini pada tahun 2000 upaya pengelolaan kawasan terus dilakukan antara lain dilaksanakan penanaman GNRHL pada petak 21 dan 23  bekerjasama dengan Sub Dinas Kehutanan Kabupaten Kulonprogo  Yogyakarta, jenis yang ditanam (sebelum dilakukan, pengelolaan yang sudah dilakukan diantaranya pengamanan kawasan, Inventarisasi potensi, pembuatan kajian SM. Sermo, Pemasangan papan informasi, rekonstruksi batas luar yang dilakukan oleh BPKH Wilayah XI Yogyakarta tahun 2004.
Dari kondisi kawasan SM. Sermo yang didalamnya terdapat beberapa fasilitas bangunan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Kulonprogo yang berupa gedung pertemuan dan perkantoran PDAM pada petak 24 bak penampungan air di petak 20 dan adanya jalan beraspal yang dilewati kendaraan umum maka dalam pengelolaannya harus dapat mengadopsi berbagai kepentingan, dan diharapkan tidak mempengarui terhadap kelestarian kawasan dan kelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistemnya di SM. Sermo. Aspek kebijaksanaan yang menjadi landasan dalam pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa diantaranya Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.


V. PERMASALAHAN

Kawasan Suaka Marga Satwa Sermo yang memiliki luas 181,0 ha pada petak 20,21,22,23 dan sebagian petak 24 RPH Sermo, ditunjuk berdasarkan Keputusan Manteri Kehutanan dan Perkebunan Republik Indonesia Nomor : 171/Kpts-II/2000 tanggal 26 Juni 2000, merupakan alih fungsi hutan dari hutan produksi dan hutan lindung. Permasalahan yang dihadapi dalam rangka pengelolaan Kawasan Suaka Marga bahwa penunjukan kawasan ini dengan fungsi Suaka Marga Satwa kurang sesuai dengan kriterianya. Kawasan Suaka Marga Satwa Sermo dengan luas 181,0 ha  dilewati jalan beraspal yang dilewati kendaraan umum, kondisi ini lambat laun akan dapat menimbulkan  kerawanan kawasan. Selain itu masih adanya perladangan di dalam kawasan SM. Sermo yatu pada petak 20, 21 dan 22 dan diharapkan setelah kawasan ini dikelola secara intentif masyarakat penggarap lahan seccara bersama-sama dapat merehabilitasi lahannya untuk kepentingan konservasi. Belum tersedianya sarana prasarana serta dana yang memadai.

Permasalahan yang dihadapi  yang dapat mempengarui kelestarian terhadap pengelolaan kawasan suaka marga satwa sermo adalah :
1.    Kawasan Suaka Marga Satwa Sermo karena terdapat asesibilitas yang cukup mudah dijangkau dan merupakan salah satu tujuan wisata ke waduk Sermo maka para pengunujung lambat laun jika tidak terkontrol dengan ketat maka akan mempengarui kelestarian kawasan ini.
2.    Masih sering terjadi perburuan satwa liar, pengambilan kayu bakar dan hasil hutan lainnya.
 

POLLING

Setujukah anda jika kawasan pantai-pantai di Yogyakarta didirikan resort dan dikelola seperti pantai di pulau Bali?

Ya
Tidak
VISITOR
0
1
5
7
3
4

BALAI KSDA YOGYAKARTA

Jl. Rajiman Km. 0,4 Wadas, Tridadi, Sleman, Yogyakarta

Telp/Fax : 0274-864203, 864130 | e-mail : bksda_yogya@yahoo.com

© 2012 Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta. All rights reserved