BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM

YOGYAKARTA

GALERI FOTO

LINK TERKAIT
SM Paliyan
I. KONDISI KAWASAN

    Suaka Margasatwa Paliyan dengan luas total 434,60 hektar berada di wilayah Kecamatan Paliyan dan Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul. Topografi kawasan berupa perbukitan karst dengan lapisan tanah yang tipis, memiliki kelerengan diatas 40 % serta pada ketinggian antar 100 300 m dpl. Letak Suaka Margasatwa Paliyan sendiri berada pada petak 136 s/d 141 yang dulunya merupakan wilayah pangkuan hutan produksi dari Dinas Kehutanan Propinsi D.I Yogyakarta (tepatnya masuk wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Paliyan yang tergabung dalam Bagian Daerah Hutan (BDH).
    Sekitar 80% kawasan ini dirambah oleh masyarakat sebagai areal perladangan, sejak masih berstatus hutan produksi, 600 petani penggarap berladang di kawasan ini, mereka berasal dari 4 desa, yaitu Karang Asem dan Karang Duwet yang termasuk willayah Kecamatan Paliyan, serta dua desa lagi yaitu Jetis dan Kepek yang masuk wilayah Kecamatan Saptosari.

II. SK. PENUNJUKAN/PENETAPAN
    Suaka Margasatwa Paliyan ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 171/Kpts-II/2000 tentang penunjukan kawasan hutan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini merupakan alih fungsi dari kawasan hutan produksi pada petak 136 sampai dengan petak 141 berada  di wilayah BDH Paliyan dengan luas total 434,60 ha.

III. POTENSI SPESIFIK KAWASAN
 
A. Fisiografi dan Topografi
Mengacu pada hasil penelitian  Van Bemmelen (1970), daerah Suaka Margasatwa Paliyan tercakup dalam kategori Gunung Sewu (Pegunungan Seribu). Formasi Gunung Sewu mencakup wilayah Kecamatan Panggang, Paliyan, Saptosari, Tepus, Semanu bagian Selatan, Ponjong bagian Tenggara, dan Kecamatan Rongkop. Gunung Sewu ini  membujur ke Timur hingga wilayah  Kecamatan Eromoko di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Secara geomorfologik daerah ini disebut dengan topografi karst dengan penciri bukit kerucut, telaga, goa, sungai bawah tanah, dan lain sebagainya.

B. Ekosistem Karst
Ekosistem karst SM. Paliyan merupakan ekosistem yang unik ditinjau dari aspek fisik, biotik dan sosial masyarakatnya. Keunikan bentang alam karst ditandai oleh ciri-ciri spesifik yang ada seperti ciri permukaan (lembah kering, telaga, pola aliran yang masuk dalam tanah) dan ciri bawah permukaan seperti (sungai bawah tanah, goa, dan ornamennya serta kehidupan yang ada). Bentang alam karst dapat berkembang dengan baik oleh kerja proses solusi di bawah kontorl iklim. Aspek iklim sangat menentukan pembentukan ekosistem karst. Karakteristik hujan, temperatur, kelembaban mempengaruhi laju prose solusi yang bekerja pada batuan yang bersifat mudah terlarut (soluble rock). Proses solusional dapat disebabkan oleh : air hujan, aliran permukaan, perkolasi, aliran sungai bawah tanah dan kerja ombak. Dari aspek hidrologis air permukaan terdapat pada dolin, uvala, dan polye, sedangkan air tanah terkontrol oleh sistem goa dan sungai bawah tanah. Patahan dan sistem rekahan dapat menghasilkan mata air.

C. Flora
Dari 6 petak yang ada hampir sudah tidak ada tanaman kayu-kayunya, hanya petak 136, 137 dan 138 atau sekitar 3,25% dari total kawasan SM yan terdapat beberapa tanaman tinggal dalam tingkatan hidup sapling (sapihan), poles (tiang) dan beberapa trees (pohon) dengan kondisi yang juga tidak lebih sehat dengan kondisi normal. Jenis pohon yang ada terdiri dar Jati dan Sono Keling.

D. Fauna
Satwa utama kawasan SM. Paliyan adalah kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Persebarannya sekarang ada di hutan rakyat atau pekarangan penduduk. Populasi satwa ini menurut pengamatan yang telah dilakukan masuk dalam kategori tinggi dan sering menimbulkan gangguan berupa kerusakan tanaman penduduk terutama pada saat musim kemarau.
Burung mempunyai peranan penting dalam proses suksesi ekosistem dan keanekaragaman jenis burung dipakai sebagai indikator ekologi dalam proses suksesi di SM Paliyan yang saat ini dapat dikatakan sebagai kawasan dalam proses suksesi awal (early stage successional forest).
Di kawasan SM. Paliyan dirtemukan 20 spesies burung yang tergabung dalam 14 famili, terbagai dalam 5 jenis frugivorous-insectivorous. 12 jenis insectivorous, 2 spesies nectarinivorous dan 1 jenis carnvorous. Terdapat 1 jenis burung yang termasuk kategori vulnerable berdasarkan status IUCN, yaitu Butbut (Centopus nigrorufus) dan yang lainnya termasuk kategori tidak terancam secara global. Adapun jenis-jenis burung yang mempunyai kepadatan populasi tertinggi yaitu : Kutilang (14,6 individu/ha), Pentet/Bntet Kelabu (10,8 individu/ha), Olive Backed Sunbird (5 individu/ha) dan Tekukur dengan kepadatan 4,7 individu/ha.
Untuk jenis serangga, pada semua lokasi di SM. Paliyan Formicidae (semut) merupakan taksa yang dominan. Presentase Formicidae berkisar antara 46 86 % dari total serangga. Jumlah taksa Carabidae yang tertangakap di SM. Paliyan pada tegakan jati lebih besar dibandingkan dengan pada tanah terbuka. Fungsi semut dalam ekosistem bermacam-macam ada yang berfungsi sebagai predator, scavenger, decomposer dan pemakan tumbuhan.  Sedangkan famili Carabidae banyak hidup di tanah, pada siang hari berlindung dan aktif pada malam hari. Baik larva maupun dewasa semuanya berfungsi sebagai predator, terutama pada larva dan pupa lepidoptera, sedikit yang berfungsi sebagai pemakan tanaman. Selain itu di kawasan SM. Paliyan untuk taksa Isoptera (rayap) jumlah individunya sangat tinggi. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh banyaknya tonggak-tonggak kayu yang juga merupakan sumber makanan dan breeding site bagi taksa Isoptera. Serangga predator yang banyak terdapat juga di SM. Paliyan adalah famili Staphylinidae. Habitat serangga ini adalah seresah hutan, rekahan kulit pohon dan ada yang bersifat parisitik.


IV. PENGELOLAAN DAN KEBIJAKSANAAN

Sesudah penetapan kawasan SM. Paliyan kegiatan yang dilakukan di kawasan ini adalah GNRHL untuk tahun tanam 2003 dan 2004 di petak 137 dan 138. Selain itu ada kegiatan rehabilitasi lahan kritis yang dilakukan dengan program hibah oleh PT. Mitsui Sumitomo Insurance dengan jenis tanaman pokok buah-buahan. Program rehabilitasi ini dilakukan mulai tahun 2005 s/d tahun 2010/2011. Wilayah area yang direhabilitasi direncanakan seluruhnya kecuali beberapa areal yang sudah ada tanaman kayu-kayunya yaitu tanaman GNRHL di petak 137 dan 138 serta tanaman sisa dari penjarahan.
Untuk mengatasi gangguan kera ekor panjang yang sering terjadi di sekitar kawasan SM. Paliyan dan mengganggu serta merusak tanaman penduduk, Balai KSDA Yogyakarta melakukan kerjasama dengan Fakultas Kehutanan UGM. Namun berbagai upaya yang telah dilakukan mengalami kegagalan karena berbagai sebab antara lain bentang alam yang berbukit-bukit sehingga menyulitkan dalam penangkapan. Namun baru-baru ini Balai KSDA Yogyakarta bekerjasama dengan Primaco berhasil melakukan penangkapan sejumlah kera di kawasan sekitar SM. Paliyan.
Dari beberapa pengelolaan tersebut di atas, jelas bahwa kebijaksanaan kehutanan dalam pengelolaan SM. Paliyan adalah untuk mengembalikan fungsi hutan sesuai peruntukan, pemanfaatan dan pengawetan tumbuhan dan satwa serta kegiatan pendukung lain sepanjang tidak mengganggu fungsi utama darai kawasan tersebut.

V. PERMASALAHAN

Permasalahan awal yang muncul di kawasan ini adalah rusaknya habitat kera ekor panjang yang disebabkan degradasi lahan akibat penjarahan dan pengrusakan. Satwa tersebut (kera ekor panjang) sekarang beralih ke tempat pekarangan/HR/tegal penduduk dan merusak tanaman pangan sehingga penduduk mengalami kerugian. Permaslahan berikutnya adalah kondisi kawasan yang telah rusak tersebut (gundul dan kritis) dirambah masyarakat untuk melakukan kegiatan perladangan/disanggem. Kegiatan perladangan ini sudah sedemikian rupa sehingga berpotensi untuk mengancam kelestarian kawasan. Kawasan yang disanggem/digarap petani menjadi semakin tandus karena untuk praktek budidaya tanaman pangan dan tidak ada input hara sama sekali (pupuk kandang).
Luas kawasan yang dirambah oleh masyarakat untuk areal perladangan mencapai 80 % dari luasa total SM. Paliyan. Ada sekitar 600 1000 petani penggarap yang berladang di kawasan ini. Permasalahan lain yang perlu penanganan khusus adalah kondisi bentang alam yang berbukit-bukit dengan kelerengan rata-rata lebih dari 40 % , solum tanah yang tipis, dan kawasan yang bertipe karst. Diperlukan teknik konservasi yang khusus untuk menangani rehabilitasi lahan di lokasi ini. 
POLLING

Anda lebih suka melihat satwa dimana?

alam bebas/habitat aslinya
kebun binatang
sekitar rumah
penangkaran
VISITOR
0
0
7
1
0
8

BALAI KSDA YOGYAKARTA

Jl. Rajiman Km. 0,4 Wadas, Tridadi, Sleman, Yogyakarta

Telp/Fax : 0274-864203, 864130 | e-mail : bksda_yogya@yahoo.com

© 2012 Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta. All rights reserved